Kamis, 16 Desember 2021

dekat-dekatlah dan ambil hati Pemimpin yang Sejati.

Bagaimana perasaan kita bila dalam keluarga kita yang beribadah kepada Tuhan? Pasangan kita, anak-anak, cucu-cucu, bahkan orang tua yang mengajar kita tentang Tuhan,  tidak lagi beribadah kepada Tuhan. 
Tentulah kita merasa sedih dan was-was bila kita memikirkan keselamatan mereka. 

Bila itu terjadi pada saudara, saudara tidak sendiri. Mari belajar dari Nuh. Seorang benar,  yang tidak bercela lakunya, seorang yang mendapat kasih karunia Tuhan. Tapi sayangnya, hanya dia sendiri yang mendapat kasih karunia Allah. Karena hanya dia yang berlaku tidak bercela di hadapan Tuhan. (Kejadian 6:8-12)

Namun pada akhirnya, ketika Tuhan menghukum dunia dengan air bah, apakah Nuh sendiri yang selamat? Tidak! Nuh selamat BERSAMA DENGAN KELUARGA TERCINTANYA!!! (Kejadian 7:6)

Kasih karunia yang Nuh terima dari Tuhan tidak berhenti sampai di Nuh saja. Sangat mungkin, ketika Nuh membangun bahtera ada air mata yang tertumpah, ada hati yang menjerit kepada Tuhan memohon lawatan Tuhan bagi keluarganya. Ingat, Nuh seorang yang bergaul dengan Allah. Ia memiliki hubungan komunikasi yang baik dengan Allahnya. Dan ketika Allah melihat air mata Nuh, sahabat-Nya, Allah bekerja mengubah keadaan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Hati yang keras, hidup istri dan anak-anak Nuh yang rusak diubahkan oleh Tuhan. Halleluyah!!!

Oleh iman, setelah diperingatkan oleh Allah tentang peristiwa yang belum ia lihat, Nuh dengan gentar dan taat membangun sebuah bahtera untuk menyelamatkan keluarganya. Dengan ini, Nuh menghukum dunia dan menjadi pewaris kebenaran sesuai dengan imannya. (Ibrani 11:7 AYT)

Berbeda dengan Imam Eli. Yes, dia memang seorang hamba Tuhan bahkan anak-anaknya pun penyelenggara ibadah. Tapi mereka tidak hidup dalam hormat dan takut kepada Tuhan. Karena itulah Tuhan merasa terhina dengan sikap hidup mereka. (I Samuel 2:30)

Bila kepada Nuh, Tuhan langsung memberitahukan rencana-Nya menghukum penduduk bumi dengan air bah tapi kepada Imam Eli dan keluarganya Tuhan mengutus seorang hamba-Nya untuk mengabarkan tentang rencana Tuhan menghukum mereka. (I Samuel 2:27-36)

Dan karena Imam Eli serta anak-anaknya tidak bertobat hukuman Allah pun tidak terelakkan. Satu keluarga meninggal tragis di hari yang sama. (I Samuel 4)

Saudaraku, sadar atau tidak sadar, setiap kita adalah pemimpin bagi mereka yang ada bersama kita saat ini, yang Tuhan percayakan untuk kita layani. Keputusan kita untuk taat kepada Tuhan, menghormati Dia serta memelihara hubungan yang baik dengan-Nya akan berdampak pada orang-orang yang kita pimpin, terutama dalam hal ini; keluarga kita.

Adakah yang sedang putus asa menghadapi satu atau dua anggota keluarga yang keras kepala, tidak mau berubah, sulit dipulihkan? JANGAN MENYERAH!!! MASIH ADA TUHAN YANG BERKUASA MEMULIHKAN SEGALA SESUATU!!! 

Tetaplah pelihara komunikasi yang baik dengan-Nya, tetaplah pegang erat tangan-Nya, tetaplah mengasihi dan menghormati Dia serta Firman-Nya. 
Karena Dia Allah yang peduli, Dia penuh kasih. Bila Allah turun tangan membela kita, apa sih yang sulit untuk diubahkan??? Tentu saja tidak ada. Dia bukan Allah yang tega membiarkan air mata kita jatuh sia-sia. Dia akan berjuang untuk menyelamatkan dan mendengar permohonan kita, sehingga kita pun muncul sebagai pemenang, sebagai pemimpin yang sukses, bukan gagal. Amin!!! 

Ingat, kita sedang bersama Komandan Tertinggi yang hebat. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Halleluyah.

Tetap semangat. Jbu



Sumber : Penjaga Menara - GPDI Green lake City

New seven Generation's artikel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar