Sabtu, 26 Maret 2022

Ayo Pulang, Nak

Dalam pelayananNya selama di bumi, Tuhan Yesus kerap menggunakan perumpamaan untuk membantu para pendengarNya memahami serta menjalankan ajaranNya. 
Karena manusia sudah jatuh di dalam dosa dan kehilangan gambar Allah dalam dirinya, akal budi manusia sangat terbatas untuk mampu mengerti bahasa kasih yang Allah firmankan. 

Karena itulah Yesus menggunakan perumpamaan agar murid-murid memahami apa yg Ia ajarkan.

Dalam Lukas 15:1-32, ada tiga perumpamaan terkenal, yaitu tentang domba yang hilang, dirham yang hilang dan anak yang hilang.

1. Bagi manusia yang merasa tersisih dan sendiri, Yesus memberikan pengajaran dalam bentuk metafora tentang seekor domba hilang di antara sekian banyak domba yang dimiliki oleh seorang gembala. Gembala domba tersebut rela meninggalkan kawanan domba lainnya hanya untuk mencari seekor domba yang hilang ini.

Dalam perumpamaan ini Yesus membantu murid-muridNya, termasuk kita di masa ini untuk memahami, bahwa sebagaimana sang gembala rela meninggalkan kawanan domba yang lain, demi mencari seekor yang hilang, Allah pun akan berjuang mencari manusia yang terhilang akibat dosa dan pemberontakan.  

2. Bagi manusia merasa dirinya tidak berharga, Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang wanita yang memiliki sepuluh dirham, namun satu diantaranya hilang. Wanita tersebut berupaya mencari dirham yang hilang itu, dengan menyalakan pelita dan menyapu rumahnya. Ketika ditemukan, ia sangat bersukacita.

Melalui kisah ini Yesus menjelaskan, betapa berharganya manusia di mata Allah. Seandainya Allah memutuskan tidak mencari manusia, itu tidak mengurangi kekayaan dan kemuliaanNya. Karena semesta alam yang luar biasa ini adalah milik dan ciptaan Allah sendiri.  Tetapi karena kasihNya yang besar, Allah justru berupaya mendapatkan kembali manusia serta mengembalikan harga diri manusia sebagai ciptaan yang paling mulia.    

3. Bagi mereka yang sulit memahami arti pengampunan Allah dan kerinduan Allah akan adanya pemulihan hubungan yang rusak antara diriNya dengan manusia, Yesus memberi perumpamaan tentang anak bungsu yang terhilang, yang meninggalkan rumah ayahnya, pergi berfoya-foya setelah mendapatkan warisan orang tua, namun pada akhirnya ditinggalkan kawan-kawannya setelah ia jatuh miskin dan tidak memiliki apa-apa lagi. Dalam kondisi terpuruk, kelaparan dan sangat miskin, ia memutuskan kembali ke rumah ayahnya, bukan pulang sebagai anak, tapi datang untuk melamar menjadi pekerja di rumah ayahnya, demi mendapatkan makanan dan bertahan hidup.

Dari jauh sang ayah melihat anaknya pulang, meskipun anaknya telah durhaka kepada dirinya dan penampilan fisik sang anak sudah tidak lagi sama seperti dahulu, ketika masih tinggal bersamanya. Tapi ayah itu tidak peduli. Ia segera berlari menyambut anak bungsunya, memeluk dan mencium dia dengan penuh kasih serta menerima anak itu di rumah.  Hubungan antara ayah dengan anak itu pulih, bahkan kedudukan sang anak di rumah itu dipulihkan. Ia tetap anak, bukan pekerja.

Dengan menyampaikan perumpamaan ini, Yesus memberi pengertian, karena dosa dan pemberontakan kita, kita meninggalkan Allah, tidak lagi menikmati kehadiranNya, sehingga kita kehilangan kemuliaan Allah. Gambar diri yang Allah taruh dalam manusia rusak. Tapi Allah adalah Bapa bagi umatNya. Ia tidak peduli dengan kondisi kita yang hancur serta hidup yang berbau bau busuk karena dosa. Bapa akan selalu menyambut manusia yang sadar dan mau kembali kepadaNya, sebagaimana ayah yang menyambut anaknya pulang. Bapa sorgawi memandang manusia yang bertobat sebagai anak yang harus dipulihkan harkat dan martabatnya.
 
Dalam tiga perumpamaan yang Yesus sampaikan ini, Yesus menceritakan bahwa ada sukacita besar, baik dari gembala yang kehilangan seekor domba, wanita yang kehilangan satu dirham, ayah yang ditinggal anak bungsu yang durhaka, sehingga masing-masing mereka mengadakan pesta dengan mengundang para sahabat dan tetangga untuk merayakan kembalinya milik mereka yang telah hilang bahkan dianggap mati. 

Dengan demikian Yesus berusaha memberi pengertian, bahwa Bapa di Sorga sangat bersukacita menyambut manusia yang mau datang kepadaNya dan bertobat. Sehingga sukacita itu dirayakan bersama para malaikatNya. 

Kira-kira, ada dimanakah posisi kita masing-masing saat ini? Domba yang hilang, dirham yang hilang, atau anak yang terhilang? Ayo pulang, nikmatilah kasih sayang Bapa yang tidak mau menghakimimu. Dengar suaraNya mencari dan memanggilmu. Ia rindu ingin memelukmu dan menerimamu kembali. Ia tidak peduli dengan bau busuk dosamu, Ia hanya rindu kau pulang dan Ia akan memulihkanmu, mengembalikan harkat dan martabatmu.

Matius 11:28 
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu

Diantara kita mungkin sudah  berada  di tempat yang benar yaitu hadirat Tuhan. Kita tidak terhilang seperti orang lain. Lihatlah, sebagaimana Bapa Sorga, Sang Gembala berusaha mencari umatNya, pribadi-pribadi yang berdosa, dan dengan tangan terbuka menerima mereka serta memeluk mereka, kiranya hati Bapa yang penuh kasih itu juga ada pada kita, untuk kita melayani jiwa-jiwa yang terluka terhilang. Sampaikan bahwa Bapa Sorgawi masih setia menunggu mereka pulang menikmati kehadiranNya.

Yudas 1:22‭-‬23 TB
Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.

Tetap semangat. Jbu




Sumber : Penjaga Menara - GPDI Green lake City

New seven Generation's artikel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar