Minggu, 12 Juni 2022

Allah kita akan memberi kelegaan

Matius 11:28 
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. »Yesus«

Tuhan menciptakan manusia begitu unik. Manusia tidak hanya dapat berkomunikasi dan berpikir dengan cerdas, namun manusia juga dapat merasakan emosi baik itu emosi positif maupun negatif. Sehingga kehidupan kita berwarna. Ada waktu kita begitu bergairah menjalani aktifitas, berbahagia, puas dengan apa yang kita kerjakan, namun ada saatnya kita juga merasa kelelahan, tidak kuat, marah, sedih dan lain sebagainya. 

Daud juga mengalami hal yang sama. Ketika Daud harus menghindar dari Saul, raja yang sakit mental, Daud merasakan kelelahan dan kelemahan. Saat-saat seperti itu, datang keluarganya dan orang-orang yang bermasalah untuk tinggal dengan Daud. (1 Samuel 22:1,2) Hal ini tentu menambah beban dalam hidup Daud.

Seringkali dalam hidup kita, Tuhan ijinkan masalah besar datang menimpa kita, tetapi Tuhan juga ijinkan datang orang-orang yang berbeban berat kepada kita, menambah beban saja rasanya. Bila hal itu sedang terjadi pada saudara, percayalah bahwa INDAH RENCANA TUHAN bagi setiap kita. Percayalah, LATIHAN dan PENDIDIKAN untuk seorang yang akan menduduki posisi penting berbeda dengan mereka yang tidak akan pernah ada di posisi itu! Itulah yang terjadi pada Daud. 

Namun Tuhan memberi jalan keluar agar saat menjalani pendidikannya Tuhan, kita kuat kembali saat kita kelelahan dan lemah. Daud mencurahkan isi hatinya, perasaannya kepada Tuhan. Daud menyampaikan bahwa ia lemah, merasa tidak ada yang mempedulikannya. (Mazmur 142:1-8) Saat emosi negatif menumpuk dalam jiwa kita, kita perlu keluarkan semua itu. Hal ini disebut katarsis. Kataris adalah cara seseorang mengeluarkan emosi negatif yang ia rasakan dengan cara positif agar ia lega dan dapat melanjutkan aktifitasnya. Dan tempat terbaik untuk kita melakukan katarsis adalah dalam hadirat Tuhan, Sang Empunya jiwa dan kehidupan ini. 

Saul juga memiliki emosi negatif, ia cemburu pada Daud lalu mencari dan berniat membunuh Daud. Ia pun sempat mengamuk pada Yonatan, putranya, hanya karena membela Daud. Kesalahan terbesar Saul adalah ia tidak menghampiri hadirat Tuhan. Saul tetap menjadi raja yang dihormati rakyatnya dalam tahun-tahun terakhir kehidupannya, tapi akibat ia jauh dari hadirat Tuhan, ia sakit mental. Akhirnya Saul mati bunuh diri setelah mengetahui ketiga putranya dan banyak dari tentara Israel tewas dalam pertempuran.

Bukan tidak mungkin apa yang Saul alami, kita alami juga. Bisa saja kita tetap menjadi seorang kristen, tetap ada dalam pelayanan, tapi bila emosi negatif dibiarkan menumpuk, tidak dikeluarkan di tempat yang tepat (dalam hadirat Tuhan) akan memperparah kondisi mental kita dan berujung pada kehancuran pribadi, keluarga bahkan komunitas kita. 

Namun kita juga bisa memilih untuk bersikap seperti Daud. Lari kepada Tuhan dan sampaikan apa saja yang kita rasakan, apa yang kita pikirkan kepadaNya. Allah kita akan memberi kelegaan. (Matius 11:28)

Tuhan Yesus memberkati. Tetap semangat.



Sumber : Penjaga Menara - GPDI Green lake City

New seven Generation's artikel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar