Minggu, 25 Desember 2022

Ungkapkan Syukurmu

Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, ….” (Kej 8:21)

Dalam kurun waktu yang cukup lama, Nuh dan keluarganya tinggal dalam area terbatas. Ya, hanya di dalam sebuah bahtera yang terapung-apung ratusan hari lamanya. Mereka seperti terkurung di sana, namun mereka terus bekerja mengurusi berbagai hewan dan binatang yang harus terpelihara hidupnya, hingga Tuhan menyuruh mereka keluar dari dalam bahtera, untuk hidup normal kembali di alam bebas, di atas bumi yang sejak semula Tuhan ciptakan dengan pujian “sungguh amat baik”. Saya tidak bisa membayangkan kehidupan Nuh dan keluarganya di dalam bahtera. Seseorang yang saya kenal, punya hobby traveling. Hampir setiap bulan ia punya agenda perjalanan ke tempat-tempat wisata di seluruh Indonesia. Itu sebabnya, sehari saja tinggal di rumah untuk mengikuti anjuran dokter agar tubuhnya beristirahat, ia sudah merasa sangat tersiksa. Bayangkan bila kita ada di posisi Nuh ketika itu!

Saya yakin, Nuh merasa bahwa semua hal yang telah terjadi di hidupnya, sejak perintah pembuatan bahtera turun kepadanya, disambung dengan ejekan orang-orang di sekitarnya saat ia dan anak-anaknya menyelesaikan pembuatan bahtera tersebut, kemudian penantian panjang di dalam bahtera, semua peristiwa itu adalah bukti penyertaan Tuhan yang sempurna atas hidupnya. Nuh sangat merasakan betul pertolongan dan kekuatan dari Tuhannya. Karena itu, hal pertama yang Nuh kerjakan saat turun dari bahtera adalah mendirikan mezbah bagi Tuhan, mempersembahkan korban bakaran di atasnya. Suatu perbuatan tanda syukurnya yang dalam kepada Tuhan, hingga Tuhan pun mencium harum persembahan tersebut, dan berjanji pada diri-Nya sendiri untuk tidak lagi mengutuk bumi karena manusia. Tekad itu lahir setelah Allah mencium persembahan Nuh, yang diberikannya dengan ketulusan hati.

Mari mengingat kembali pertolongan dan kekuatan yang Tuhan berikan kepada kita di sepanjang tahun ini. Ambillah kertas atau buku, dan tuliskan satu per satu pertolongan-Nya di masa-masa sulit hidup ini. Syukurilah semua itu dan berilah kepada Tuhan persembahan yang tulus. Biarkan Tuhan merasakan harumnya persembahan kita, di dalam hati-Nya. (em)

DOA: “Ya Allah, betapa banyaknya yang telah Kaulakukan dalam hidupku. Perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Aku bersyukur untuk kasih setia-Mu yang kualami. Amin.”





Sumber : Ekklevision Media Center - GPdI Ketapang 

New seven Generation's artikel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar