Yohanes 5:1-18
Di Yerusalem ada sebuah kolam yang berada dekat pintu gerbang Domba. Nama kolam itu Betesda. Betesda memiliki arti rumah rahmat, rumah pengampunan, rumah belas kasihan juga berarti air yang mengalir. Banyak orang sakit yang ada di sekitar kolam itu yang menunggu malaikat menggoncang air kolam itu, karena bila airnya bergoncang, orang sakit yang pertama masuk ke dalam kolam itu akan sembuh apapun penyakitnya.
Di situ ada seorang lumpuh yang sakit selama 38 tahun dan sayangnya tidak ada yang menolongnya untuk turun ke dalam kolam itu, sehingga ia menderita cukup lama dengan penyakitnya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Yesus. Dan Yesus cukup berfirman sehingga ia sembuh. Setelah itu, dalam pertemuan berikut Tuhan Yesus meminta orang lumpuh itu untuk tidak berbuat dosa lagi.
Ada banyak orang di hari-hari terakhir menunggu kebaktian kebangunan rohani, atau menunggu seorang hamba Tuhan yang memiliki karunia kesembuhan untuk didoakan dan mendapatkan pertolongan. Itu tidak salah kok. Tapi kisah di Yohanes 5 ini menunjukkan kepada kita, bahwa hal utama yang kita butuhkan adalah kehadiran Tuhan Yesus secara pribadi, atau lebih tepat lagi perjumpaan dengan Yesus secara pribadi. Karena kasih Tuhan yang akan Ia nyatakan kepada kita tidak sebatas berkat atau mujizat untuk menolong hal-hal jasmani kita. Kehadiran Tuhan akan menolong kita sampai roh kita dibangkitkan dan dipulihkan. Karena roh yang sehat, jiwa yang sehat akan berdampak pula pada jasmani kita.
Mazmur 73 berisi curhatan seorang pelayan Tuhan yang juga sempat lelah menunggu keadilan Allah dinyatakan. Namanya Asaf. Ia lelah, marah dan kecewa melihat orang fasik seakan diberkati dan baik-baik saja. Hingga akhirnya ia masuk ke dalam tempat kudus Tuhan.
Di tempat kudus Tuhan, Asaf melihat hal-hal yang belum pernah ia lihat. Ia memahami hal-hal yang belum ia pahami sebelumnya. Asaf memang merasa ia seperti hewan yang dungu, tetapi setidaknya ia berada dekat dengan Tuhan. Ia merasa nyaman dalam hadirat Tuhan. Hingga ia berkata, Tuhan adalah bagianku (porsiku, warisanku).
Ketika Tuhan menjadi bagian kita, itu hal yang terpenting. Itulah hal yang memulihkan dan menyembuhkan kita. Tapi sekali lagi, untuk bisa berkata dengan penuh kesadaran bahwa Tuhan adalah bagian kita, kita perlu memiliki waktu pribadi berdua dengan Tuhan.
Tetap semangat. Jbu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar