Kamis, 01 Desember 2022

BELAS KASIHAN TUHAN

Lukas 7:11-16
Bukan sebuah kebetulan Tuhan Yesus pergi ke kota Nain. Ketika rombongan Tuhan Yesus tiba di dekat gerbang kota itu, mereka bertemu dengan rombongan kedukaan yang membawa jenazah seorang anak muda untuk dimakamkan. Almarhum adalah anak tunggal dari seorang ibu janda. Siapa yang tidak ikut bersedih melihat pemandangan yang memilukan itu. Ibu janda yang kini sendirian, tiada harapan dan tiada sandaran, meratapi kepergian anaknya. Ah, bisa saja ia pun ingin ikut mati saja.

Pengkhotbah 7:2
Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.

Rumah duka merupakan tempat kita merenungkan kehidupan ini. Bahwasanya kehidupan ini tidaklah berhenti sampai pada kematian saja, tetapi ada kehidupan setelah kematian. Pertanyaan besarnya adalah: “Dimanakah kita berada ketika kita meninggal dan masuk dalam kekekalan?” Jawabannya tergantung bagaimana dan kepada siapa kita mempercayakan kehidupan kita sebelum kita meninggalkan raga ini. Bila kita percaya kepada Yesus dan hidup sesuai Firman-Nya maka sudah pasti kita masuk ke dalam sorga yang mulia. Sebaliknya, bagi orang yang tidak percaya kepada Yesus, atau mungkin percaya dan beragama Kristen, tapi menolak hidup dalam Firman-Nya, ketika ia meninggal dunia, ia akan masuk ke dalam kegelapan, dan masuk ke dalam hukuman kekal. 

Karena itu, perhatikanlah bagaimana kita harus hidup! Yesus memberi teladan yang luar biasa baik bagi kita. Ketika Yesus melihat ibu janda yang sedang berduka itu, “hati-Nya tergerak oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!". Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”. Lukas 7:13,14

Kita bisa jatuh iba kepada sesama, apalagi bila sesama itu masih terikat hubungan darah atau orang yang terdekat dengan kita. Melihat orang yang mengalami kesusahan, menangis karena bencana dan kedukaan, hati kita mudah tersentuh bukan? Itulah sifat Allah dalam diri manusia, meskipun citra Allah sendiri sudah rusak dalam diri manusia karena dosa. Namun sebagai pengikut Kristus yang telah ditebus dengan Darah Yang Maha Kudus, ditebus dengan kasih yang sempurna, adakah kasih kita bergerak, sebagaimana kasih Tuhan Yesus?

Yesus tidak berhenti sampai di “merasa kasihan” tapi Ia bergerak, membuktikan kasih-Nya dengan bertindak untuk menolong, menguatkan dan membangkitkan anak muda yang meninggal itu. Ia memulihkan sukacita seorang ibu yang terampas oleh kematian, Ia membangkitkan seorang anak muda yang memiliki potensi besar di masa depannya!

Kita memang tidak dapat membangkitkan orang mati, (kecuali jika Tuhan berkenan memakai kita untuk hal itu), tapi biarlah dunia melihat kehadiran Yesus yang penuh belas kasihan melalui pribadi kita. Biarlah dunia tidak hanya mendengar kata-kata dari kita sebagai tanda simpati, tapi dunia melihat empati dari umat Kerajaan Allah. Hari-hari ini, dunia sedang ketakutan dengan berbagai ancaman. Mereka berteriak “gelap!”. Mereka hidup namun dalam gelap. 

Gereja Tuhan adalah Ecclesia, dipanggil keluar dari gelap. Kepada kita, ribuan tahun yang lampau Yesus berkata, “kamulah terang dunia”. Terang dalam dunia yang gelap. Inilah hidup yang sesungguhnya. Hidup yang memiliki KASIH YANG BEKERJA! Mungkin kita tidak memiliki kekayaan materi yang melimpah, tapi ada satu yang dunia tidak bisa miliki dan tidak diproduksi di dunia ini: DAMAI SEJAHTERA. Kiranya kehadiran kita merepresentasikan kehadiran Yesus Sang Raja Damai, Firman yang menghibur, menguatkan dan memulihkan. Kiranya lagu pujian yang kita naikkan kepada Tuhan menggugah orang lain untuk datang kepada Tuhan Yesus dan menerima pertolongan-Nya.

Tetap semangat, selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.



Sumber : Penjaga Menara - GPdI Green lake City

New seven Generation's artikel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar